Apakah Benar Jika Musim Hujan Dapat Merusak Panen Kopi?

Halo sobat, sudah lama rasanya saya nggak nulis blog sampai pada akhirnya kembali pada pembahasan kopi, hehe memang sudah agak bosan saya nulis blog, apalagi kalau suasana badan sedang K.O alias tepar gini, sudah nggak ada yang memperhatikan lagi ^_^

Nah pada kali ini meskipun sedang tepar gini akhirnya saya nemu solusi ide nulis nih, gara-gara ngopi barusan, inspirasinya langsung nongol lagi, dan berniat membuat artikel tentang kopi, namun sayangnya ya gituh, ini artikel saya tulis ulang dari website kopi lovers majalah.ottencoffee.co.id, yaps kalau sobat mau liat artikel aslinya langsung cekidot kesana, namun jika ingin membaca tulisan ulangnya (yang tanpa izin dari penulisnya) silahkan baca tulisan saya ini, In Syaa Allah nanti akan ada manfaatnya, meskipun rada-rada nggak jelas. Karena tujuan saya disini adalah memberikan sajian yang nggak merubah isi sesungguhnya, namun hanya menambahkan beberapa hal yang mungkin ndak ada manfaatnya, pesan saya cukup ambil manfaatnya saja, dan tinggalkan hal yang tidak ada manfaatnya ya. ^_^

credit gambar dari : ahlikopilampung

Meski perkebunan-perkebunan kopi di Indonesia sedikit lebih beruntung, namun tidak demikian dengan mereka (petani kopi) yang berada di Negara asing misalnya di Amerika Selatan. Di negara-negara seperti El Salvador, musim panen yang berada di jangka waktu antara November sampai Februari hingga Maret seharusnya mengalami musim kering, yang sangat ideal dalam memetik dan memanen ceri-ceri kopi.

Namun pada akhir tahun 2016 lalu, musim panen di sana ditandai dengan banyaknya curah hujan yang turun hampir pada setiap hari. Bunga-bunga kopi mekar di pohon bersamaan dengan saat pemetikan (masa panen) ceri kopi, padahal mekarnya bunga kopi ini semestinya ‘pertanda’ bahwa pohon kopi itu akan mulai panen sekitar 3-6 bulan kemudian.

Hal ini tidak hanya sekadar bentuk keanehan dalam fenomena cuaca saja, namun juga kekhawatiran bagi banyak produsen dan juga para petani kopi yang kemungkinan besar akan mengalami penurunan pendapatan dan hasil panen.

Ceri yang retak di pohon karena curah hujan yang tinggi. Musim hujan memang berperan cukup penting dalam menghasilkan ceri kopi yang akan berbuah. Namun jika musim hujan datang bersamaan di saat musim panen, maka itu juga berarti ancaman bagi ceri kopi yang sedang matur. Curah hujan yang tinggi bisa membuat ceri kopi berguguran ke tanah, yang jika dibiarkan dalam kurun cukup lama akan membuat ceri (yang jatuh) itu berfermentasi.

Risiko lain yang juga bisa terjadi, ceri-ceri kopi tetap tinggal di batang pohon namun mengalami proses cracking—permukaan buahnya mengalami “retakan” yang cukup signifikan. Kondisi demikianlah yang sedang terjadi di El Salvador saat ini. Cracking terjadi karena terlalu banyaknya air yang diserap dengan terlalu cepat sehingga membuat sel-sel dalam kulit ceri yang sedang mekar itu ‘memuai dengan berlebihan’. Akibatnya, kulit ceri pun menjadi pecah.

Pada akhirnya, ceri kopi yang tidak sempurna ini akan menghasilkan cupping score yang rendah selain berat ceri yang juga menurun dan lebih ringan. Dengan kata lain, karena cracking, ceri kopi dapat  kehilangan cukup banyak daging buah yang umumnya memengaruhi faktor sweetness dari kopi yang akan diproses nantinya.

Kondisi ceri kopi yang mengalami cracking. Masalah curah hujan yang berlebihan ini tidak hanya merugikan mereka yang bekerja di sektor pertanian kopi, namun juga di proses pengolahan. Bagi mereka yang berkonsentrasi di bidang pengemasan dan pengiriman, hujan bisa mengakibatkan dampak yang lebih serius. Jika hujan datang begitu intens, ceri-ceri kopi perlu dijemur berkali-kali lagi dan tak jarang akan memerlukan proses pengolahan lanjutan. Semua ini tentu akan menimbulkan masalah pada kualitas kopi yang dihasilkan nantinya.

Seperti efek domino, kekacauan masa panen di El Salvador saat ini pun berisiko terhadap “timeline”masa panen selanjutnya. Karena bunga kopi sudah terlanjur mekar, kemungkinan mereka akan memulai proses panen berikutnya di bulan Agustus 2017, beberapa bulan lebih cepat dari waktu seharusnya.

Meski Indonesia bisa dibilang sedikit lebih beruntung karena tidak terlalu mengalami masalah seserius negara-negara di Amerika Latin, namun bukan berarti perkebunan kopi kita otomatis terbebas dari ancaman dampak perubahan iklim. Berkaca dari kasus ceri kopi yang melompong di Aceh beberapa waktu lalu, barangkali efek perubahan iklim terhadap pertanian-pertanian kopi di Indonesia hanya menunggu waktu.

Nah itulah sepintas tentang dampak musim hujan yang dapat merusak panen kopi, sebetulnya saya nggak nulis ulang artikel ini, hehe cuman mau share pengetahuan dari segenap pembaca blog saya, kalau mau artikel tentang dampak musim hujan yang dapat merusak panen kopi silahkan kunjungi web aslinya ya ^_^

0 Response to "Apakah Benar Jika Musim Hujan Dapat Merusak Panen Kopi?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel